OUR VIEWS
-
Salahkan pada Yunani ...
-
Antara Eropa membandel dan JP Morgan ...
-
Antara Pembatasan BBM batal , inflasi April dan Regional.... ...
NEWS
-
JAKARTA. PT Pertamina (Persero) meminta pemerintah memberikan kepastian soal ...
-
NEW YORK. Indeks Standard & Poor 500 menguat ke level tertinggi hampir empat ...
-
JAKARTA. Setelah tertunda lebih dari satu bulan, Kementerian Perumahan Rakyat ...
Branded Sale: Memilih saham dengan High Price Earnings (PER) versus low PER dalam koreksi pasar saham.
Branded Sale: Memilih saham dengan High Price Earnings (PER) versus low
PER dalam koreksi pasar saham.
Koreksi pasar saham sebenarnya
dapat disamakan dengan kejadian ketika terjadi sebuah branded sale di
department store, dimana pembeli akan melirik barang mahal terlebih dahulu
versus barang murah (mengikuti istilah: barang mahal selalu bagus). Di dalam
dunia saham, murah atau mahalnya suatu saham dinilai dari Price Earnings Ratio
atau PER, dan dalam praketknya bila kita lihat, saham dengan PER tinggi yang
turun besar dalam koreksi akan naik lebih cepat dalam rebound versus yang low
PER.
Mengapa ini bisa terjadi? Pada dasarnya manusia secara intuisi
mencari barang dengan qualitas tinggi, yang identik dengan harga mahal karena
percaya istilah “barang mahal selalu bagus”. Dalam kasus branded sale, sepatu import
dengan harga mahal seperti “Gucci” akan mendapat perhatian yang lebih besar
dari merek murah local seperti “Bata” walaupun anda ditawarkan “buy one get
one” untuk Bata.
Manusia oh manusia: Perilaku manusia dalam koreksi bursa saham juga
terjadi seperti diatas, dimana saham dengan valuasi PER paling tinggi akan
dilirik terlebih dahulu versus PER rendah sehingga membuat saham PER tinggi
rebound terlebih dahulu bila pasar berbalik arah. Sebagai contoh Bank BCA
(BBCA) adalah saham dengan PER paling tinggi di sector perbankan dan bila ada
koreksi biasanya pembalikan arahnya lebih cepat dari emitten lainnya.

