OUR VIEWS

NEWS

News

PT Navigat Energy tambah pembangkit dari sampah

JAKARTA. PT Navigat Energy Indonesia berencana menambah jumlah pembangkit
listrik yang berbasis sampah. Tahun ini, Navigat sedang mengikuti tender proyek
pembangkit berbahan bakar sampah di Sunter, Jakarta Utara, serta di Bandung,
Jawa Barat. Direktur Utama Navigat, Agus Nugroho Santos, merasa optimistis bisa
memenangkan tender lantaran telah memiliki pengalaman dalam mengelola pembangkit
listrik dari sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) Bantar Gebang, Bekasi,
Jawa Barat. Navigat berhasil mengoperasikan satu pembangkit tenaga sampah
berkapasitas 10 Megawatt (MW) di Bantar Gebang. Tahun ini, Navigat menyediakan
investasi Rp 530 miliar. "Targetnya, kapasitas listrik sampai 28 MW," ujarnya ke
KONTAN, Senin (23/1).Agus menjelaskan, tender pembangkit sampah di Sunter
berkapasitas sampah mencapai 1.000 ton. Perkiraannya, kapasitas listrik yang
bisa dihasilkan 10 MW. Sementara di Bandung dengan kapasitas sampah mencapai 700
ton dengan perkiraan kapasitas listrik 8 MW. Selain di Bantar Gebang, kata Agus
Navigat juga sedang membangun pembangkit listrik berbasis sampah perkotaan di
TPS Suwung, Bali dengan kapasitas 10 MW. Proses pembangunan sudah dilakukan
sejak 2011 lalu dan beroperasi akhir tahun 2012 ini. Navigat menyiapkan anggaran
Rp 200 miliar. Agus menambahkan, pada Agustus 2011, Navigat juga sudah
memenangkan tender pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah perkotaan di
TPS Benowo, Surabaya. Sayang, perusahaannya belum bisa melaksanakan proyek
pembangkit tersebut lantaran masih terganjal izin dari pemerintah kota dan DPRD
Surabaya. "Izinnya berlarut-larut," keluh Agus. Total kapasitas listrik yang
akan dihasilkan dari TPS Benowo ini, kata Agus, mencapai 10 MW. Total kebutuhan
investasi untuk proyek ini mencapai Rp 320 miliar. "Kalau tidak ada hambatan,
pengerjaannya membutuhkan waktu dua tahun," ujarnya. Selain hambatan birokrasi,
Agus juga menunjuk rendahnya harga jual listrik berbasis energi biomassa, biogas
dan sampah kota, sebagai biang kerok minimnya investasi di pembangkit listrik
berbahan bakar sampah. Investor pun tak bergairah berinvestasi karena labanya
minim. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi,
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kardaya Warnika, berharap,
pengusaha pembangkit listrik berenergi sampah tidak risau. Sebab, pekan ini
bakal keluar revisi Peraturan Menteri ESDM No 31/2009 mengenai harga jual energi
listrik berbasis biomassa, biogas, dan berbasis sampah perkotaan. Dalam revisi
ini, pemerintah akan menaikan tarif jual listrik berbasis biomassa, biogas, dan
sampah perkotaan itu sekitar 50%. Menurut Kardaya, pembahasan mengenai tarif
baru tersebut dilakukan sejak Oktober 2011.