OUR VIEWS
-
Salahkan pada Yunani ...
-
Antara Eropa membandel dan JP Morgan ...
-
Antara Pembatasan BBM batal , inflasi April dan Regional.... ...
NEWS
-
JAKARTA. PT Pertamina (Persero) meminta pemerintah memberikan kepastian soal ...
-
NEW YORK. Indeks Standard & Poor 500 menguat ke level tertinggi hampir empat ...
-
JAKARTA. Setelah tertunda lebih dari satu bulan, Kementerian Perumahan Rakyat ...
News
Indonesia sasaran pebisnis ritel dunia
JAKARTA. Indonesia kembali terbukti menjadi pasar empuk bagi peritel asing.
Dalam laporan terbarunya, PricewaterhouseCoopers International Ltd (PWC)
memprediksi, industri ritel dan konsumer di Asia Pasifik akan tumbuh rata-rata
6% selama 2011 hingga 2015. Angka ini menjadikan Asia Pasifik sebagai kawasan
dengan tingkat pertumbuhan ritel tertinggi dibandingkan Amerika Serikat dan
Eropa yang diperkirakan hanya tumbuh 1% pada periode sama Di tahun 2015, PWC
memperkirakan penjualan ritel di Asia Pasifik akan mencapai US$ 10,5 triliun,
melesat 59% dari perkiraan penjualan ritel tahun ini sebesar US$ 6,6 triliun.
Meksi berprospek cerah, krisis ekonomi global yang tak menentu berpotensi
memperlambat laju ekspansi di Asia dalam waktu dekat. Meski begitu, pengusaha
tidak perlu khawatir. Tantangan ini akan diimbangi dengan pertumbuhan kelas
menengah dan kenaikan pendapatan di Asia. Alhasil, ini merupakan peluang besar
bagi peritel.Adapun, tingkat pertumbuhan ritel di Indonesia berada di kisaran
4,5%-5% per tahun selama kurun waktu tahun 2012-2015. Pertumbuhan ritel dan
konsumer di Indonesia akan lebih kuat dari Jepang, Korea Selatan, dan Australia,
walau tetap lebih rendah dari China," ujar Ay Tjing Phan, Ketua Consumer and
Industrial Products & Service PWC Indonesia melalui siaran pers, akhir pekan
lalu. Tertinggi ritel online Potensi pasar ritel Indonesia ini pula yang
mendorong ritel asing berbondong-bondong masuk Indonesia. Ini terlihat makin
banyaknya waralaba asing masuk ke Tanah Air. Setelah peritel besar seperti
Carrefour, Lotte Mart, Circle K, Giant, 7 Eleven, Lawson, Family Mart, kini 16
waralaba AS ingin merangsek masuk ke Indonesia Antara lain Applebee\'s,
Denny\'s, Johnny Rockets, Carvel Ice Cream, Cinnabon, Schlotzsky\'s, dan Moe\'s
Southwest Grill yang semua di sektor makanan. Berkembangnya pasar ritel dan
waralaba di Indonesia karena investor menyadari pertumbuhan pasar ritel hanya
akan terjadi di Asia Pasifik. Dalam dekade terakhir sangat jelas terlihat
perubahan mendasar pada pola konsumsi di sia Pasifik, ujarnya. Namun,
pertumbuhan tertinggi datang dari ritel online. Ini didukung bertambahnya
pengguna media sosial, perbaikan infrastruktur telekomunikasi, pembayaran, dan
sistem keamanan jaringan. PWC memprediksi, penjualan online di Asia akan naik
20% per tahun. Bahkan di beberapa negara berteknologi maju seperti Jepang dan
China, pertumbuhannya bisa menembus 40% per tahun. Wakil Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Ruhanta mengakui prospek cerah bisnis
ritel. "Ini membuat pertumbuhan penjualan ritel di Indonesia tumbuh 10%-15% per
tahun," ujar Tutum Ini membuat Aprindo yakin penjualan ritel tahun ini akan
mencapai Rp 138 triliun, naik 15% dari tahun lalu Rp 120 triliun. I ni pula yang
membuat peritel modern dan tradisional gencar menambah gerai.
Dalam laporan terbarunya, PricewaterhouseCoopers International Ltd (PWC)
memprediksi, industri ritel dan konsumer di Asia Pasifik akan tumbuh rata-rata
6% selama 2011 hingga 2015. Angka ini menjadikan Asia Pasifik sebagai kawasan
dengan tingkat pertumbuhan ritel tertinggi dibandingkan Amerika Serikat dan
Eropa yang diperkirakan hanya tumbuh 1% pada periode sama Di tahun 2015, PWC
memperkirakan penjualan ritel di Asia Pasifik akan mencapai US$ 10,5 triliun,
melesat 59% dari perkiraan penjualan ritel tahun ini sebesar US$ 6,6 triliun.
Meksi berprospek cerah, krisis ekonomi global yang tak menentu berpotensi
memperlambat laju ekspansi di Asia dalam waktu dekat. Meski begitu, pengusaha
tidak perlu khawatir. Tantangan ini akan diimbangi dengan pertumbuhan kelas
menengah dan kenaikan pendapatan di Asia. Alhasil, ini merupakan peluang besar
bagi peritel.Adapun, tingkat pertumbuhan ritel di Indonesia berada di kisaran
4,5%-5% per tahun selama kurun waktu tahun 2012-2015. Pertumbuhan ritel dan
konsumer di Indonesia akan lebih kuat dari Jepang, Korea Selatan, dan Australia,
walau tetap lebih rendah dari China," ujar Ay Tjing Phan, Ketua Consumer and
Industrial Products & Service PWC Indonesia melalui siaran pers, akhir pekan
lalu. Tertinggi ritel online Potensi pasar ritel Indonesia ini pula yang
mendorong ritel asing berbondong-bondong masuk Indonesia. Ini terlihat makin
banyaknya waralaba asing masuk ke Tanah Air. Setelah peritel besar seperti
Carrefour, Lotte Mart, Circle K, Giant, 7 Eleven, Lawson, Family Mart, kini 16
waralaba AS ingin merangsek masuk ke Indonesia Antara lain Applebee\'s,
Denny\'s, Johnny Rockets, Carvel Ice Cream, Cinnabon, Schlotzsky\'s, dan Moe\'s
Southwest Grill yang semua di sektor makanan. Berkembangnya pasar ritel dan
waralaba di Indonesia karena investor menyadari pertumbuhan pasar ritel hanya
akan terjadi di Asia Pasifik. Dalam dekade terakhir sangat jelas terlihat
perubahan mendasar pada pola konsumsi di sia Pasifik, ujarnya. Namun,
pertumbuhan tertinggi datang dari ritel online. Ini didukung bertambahnya
pengguna media sosial, perbaikan infrastruktur telekomunikasi, pembayaran, dan
sistem keamanan jaringan. PWC memprediksi, penjualan online di Asia akan naik
20% per tahun. Bahkan di beberapa negara berteknologi maju seperti Jepang dan
China, pertumbuhannya bisa menembus 40% per tahun. Wakil Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Ruhanta mengakui prospek cerah bisnis
ritel. "Ini membuat pertumbuhan penjualan ritel di Indonesia tumbuh 10%-15% per
tahun," ujar Tutum Ini membuat Aprindo yakin penjualan ritel tahun ini akan
mencapai Rp 138 triliun, naik 15% dari tahun lalu Rp 120 triliun. I ni pula yang
membuat peritel modern dan tradisional gencar menambah gerai.

