OUR VIEWS
-
Salahkan pada Yunani ...
-
Antara Eropa membandel dan JP Morgan ...
-
Antara Pembatasan BBM batal , inflasi April dan Regional.... ...
NEWS
-
JAKARTA. PT Pertamina (Persero) meminta pemerintah memberikan kepastian soal ...
-
NEW YORK. Indeks Standard & Poor 500 menguat ke level tertinggi hampir empat ...
-
JAKARTA. Setelah tertunda lebih dari satu bulan, Kementerian Perumahan Rakyat ...
Saat tepat emiten memangkas beban
JAKARTA. Rezim bunga rendah berpotensi mendongkrak kinerja emiten yang memiliki
utang rupiah dalam jumlah besar. Bank Indonesia (BI) akan mengeluarkan suku
bunga dasar kredit (SBDK) pada Maret nanti. Ini yang kemudian akan mempengaruhi
suku bunga kredit perbankan. Jika memang nanti ada keputusan bank menurunkan
suku bunga kredit, ada potensi meringankan beban perusahaan," ujar analis Askap
Futures, Kiswoyo Adi Joe. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Joseph Pangaribuan
menambahkan, penurunan suku bunga kredit perbankan akan menurunkan biaya bunga
atau cost of fund perusahaan yang akan masuk dalam beban usaha. Menurut Joseph,
ketika bunga kredit turun, beban emiten juga cenderung berkurang ketika
menerbitkan obligasi. "Dengan menawarkan bunga rendah, mungkin obligasi lebih
menguntungkan daripada pinjaman bank," ujar dia. Kiswoyo memperkirakan, sejumlah
emiten yang memiliki rasio utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER)
yang tinggi akan lebih merasakan keringanan beban bunga tersebut. Sebut saja
antara lain PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), dan
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID). Ketiga emiten ini mencatatkan DER di atas 3
kali. Mengacu data per akhir September 2011, PTPP memiliki DER sebesar 3,75
kali, ADHI sebanyak 5,5 kali, dan DOID mencapai 8,9 kali. Beban lebih ringan
PTPP memiliki total ekuitas Rp 1,246 triliun. Namun, total kewajibannya mencapai
Rp 4,620 triliun. Dari jumlah kewajiban itu, utang bank jangka pendek PTPP pada
empat bank domestik dalam bentuk rupiah sebesar Rp 1,63 triliun setara 35% total
kewajiban. Jika bunga kredit menyusut, maka beban bunga utang bank PTPP akan
lebih ringan. Adapun ADHI, hingga akhir kuartal ketiga 2011 mencatatkan utang
bank jangka pendek senilai Rp 739 miliar. Utang ini dalam bentuk rupiah, yang
berasal dari lima bank domestik. Utang-utang itu dikenakan tingkat bunga per
tahun di kisaran 9,75%-15,25% di 2011. Tingkat bunga ini meningkat dari 2010
yang hanya 4,25%-13,5%, yang berasal dari lima bank yang sama. ADHI juga
memiliki utang jangka panjang Rp 32 miliar. Suku bunga yang ditetapkan sebesar
12,5% dengan ketentuan mengikuti suku bunga di pasar (adjustable rate). Jadi,
total utang jangka pendek dan jangka panjang ADHI Rp 771 miliar, atau setara
16,5% dari total kewajiban ADHI. DOID sendiri memiliki kewajiban mencapai Rp
9,17 triliun, dengan total ekuitas hanya Rp 1,03 triliun. Namun, Joseph
mengingatkan, utang DOID lebih banyak dalam bentuk dollar Amerika Serikat. Ini
berarti beban bunga DOID lebih banyak dipengaruh pergerakan suku bunga London
Interbank Offered Rate (Libor). Joseph tetap melihat DOID masih bisa mendapatkan
keuntungan dari pinjaman pembelian alat berat. "Sebanyak 80%-90% dari total
belanja modal DOID digunakan untuk pembelian alat berat yang menggunakan kredit
berbunga. Ini akan meringankan beban bunga yang ditanggungnya," ujar dia

